pantai pulau untung jawa
.: Sekelumit Sejarah Pulau Untung Jawa
Informasi
Terbentuknya Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu telah ditetapkan
oleh Undang Undang Nomor 54 Tahun 1999. Kepulauan Seribu telah
ditingkatkan statusnya yang tadinya dari sebuah kecamatan menjadi
Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu.
Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu merupakan gugusan pulau-pulau
kecil yang terletak di perairan Teluk Jakarta. Adapun penamaan dari
“Pulau Seribu/Kepulauan Seribu” itu sendiri bukan berarti pulaunya ada seribu. Melainkan hanyalah sebuah nama dari kabupaten untuk gugusan pulau-pulau di Teluk Jakarta.
Sebutan Pulau Seribu/Kepulauan Seribu sudah ada sejak tempo doeloe. Mungkin orang-orang tempo doeloe itu menghitung pulau tidak dengan teknologi
yang ada pada zaman sekarang. Mereka hanya memperkirakan pulau-pulau
yang berada di Utara Kota Jakarta ada seribu karena banyaknya. Maka
terjadilah penyebutan Pulau Seribu/Kepulauan Seribu itu (red).
Untuk
kita ketahui, bahwa Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu ini terdiri
atas 108 buah pulau yang besar dan kecil. Pulau-pulau ini terbagi atas 2
kecamatan dan 6 kelurahan. Dari keenam kelurahan itu salah satunya akan
diceritakan adalah Pulau Untung Jawa.
Pulau Untung Jawa yang mempunyai luas
daratan hanya 40,10 Ha. yang dibagi atas 9 RW (Rukun Warga) dan 9 RT
(Rukun Tetangga) pada saat ini dihuni oleh ± 1.782 jiwa (477 KK) yang
sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan tradisional. Mereka
menangkap ikan dengan menggunakan peralatan yang sangat sederhana,
seperti : pancing dan bubu (perangkap ikan).
Pulau Untung Jawa walau hanya sebagai pulau pemukiman namun pada tiap-tiap hari libur begitu ramai dikunjungi oleh wisatawan
domestik. Kebanyakan mereka yang datang hanya untuk menikmati suasana
bahari dengan biaya yang terjangkau. Karena jarak dan letak pulau ini
sangat strategis hanya menempuh jarak 3,5 mil dengan kecepatan rata-rata
30 menit dari Pantai Tanjung Pasir.
Sekelumit Sejarah
Pada usianya yang cukup tua (kurang lebih telah 6 generasi),
Pulau Untung Jawa menyimpan sekelumit sejarah pada seputar Pemerintahan
Hindia Belanda dan Jepang. Saat negara kita dikuasai oleh Pemerintah
Hindia Belanda, ternyata pulau-pulau yang berada di sekitar wilayah
Kelurahan Pulau Untung Jawa telah dihuni oleh orang-orang pribumi yang
berasal dari daratan Pulau Jawa. Sejak tahun 1920-an wilayah ini
dipimpin oleh seorang yang biasa dikenal dengan sebutan Bek (lurah).
Bek Fi’i dan Bek Kasim yang berdomisili di Pulau Kherkof (sekarang Pulau Ubi> telah tenggelam)
adalah orang yang telah memimpin di beberapa pulau. Pulau-pulau yang
dipimpinnya antara lain : Pulau Amiterdam (Pulau Untung Jawa), Pulau
Middbur (Pulau Rambut > sekarang sebagai Pulau Suaka Margasatwa),
Pulau Rotterdam (Pulau Ubi Besar), Pulau Schiedam (Pulau Ubi Kecil),
Pulau Purmerend (Pulau Sakit/Pulau Bidadari), Pulau Kherkof (Pulau
Kelor), Pulau Kuiper (Pulau Cipir/Pulau Khayangan), dan Pulau
Onroust/Pulau Sibuk (Pulau Undrus ).
Sekitar tahun 1930-an Bek Fi’i dan Bek Kasim pun digantikan oleh Bek Marah. Beliulah yang menganjurkan rakyatnya yang tinggal
di Pulau Kherkof untuk berpindah ke salah satu pulau yakni Pulau
Amiterdam. Sebab saat itu Pulau Kherkof hampir tenggelam karena telah
terkikis dimakan oleh air laut (abrasi).
Perjalanan
menuju Pulau Amiterdam hanya menggunakan perahu layar yang memakan
waktu ± 8 jam. Penduduk Pulau Amiterdam ternyata memerima kedatangan
masyarakat Pulau Kherkof yang sebagian besar penduduknya berasal dari
daratan Pulau Jawa (Daerah Betawi) dengan senang hati.
Diantara
sekian banyak penduduk Pulau Amiterdam yaitu: Cule, Kemple, Derahman,
Derahim, Selihun, Sa’adi, Saemin dan lain-lain menganjurkan agar segera
memilih lahan dan menggarapnya untuk mereka tempati. Lama kelamaan Pulau
Amiterdam berganti nama dengan sebutan Pulau Untung Jawa yang berarti
pulau keberuntungan bagi orang-orang yang dari daratan Pulau Jawa saat
itu.
Berakhirnya
nama Amiterdam berakhir pula kepemimpinan Bek Marah yang kemudian
digantikan oleh Bek Midih yang masa kepemimpinannya selama ± 10 tahun
dan kemudian diganti oleh Bek Markasan lalu Bek Saenan.
Sekitar tahun
1940-an tibalah saat kemalangan bagi penduduk Pulau Untung Jawa. Yaitu
datangnya serangan nyamuk secara besar-besaran. Karena tak tahan dengan
penderitaan penduduknya maka Bek Saenan menyarankan untuk pindah ke
Pulau Ubi Besar (Pulau Rotterdam). Namun penderitaan sepertinya tiada
pernah berhenti. Konon ketika itu untuk memenuhi kebutuhan pokok
sehari-hari saja terasa sulit. Karena kebutuhan pokok yang biasa mereka
beli dari Pasar Ikan – Sunda Kelapa menjadi jarang didapat. Ini semua
diakibatkan boikot pada perang melawan Tentara Nippon (Jepang) yang
menjajah saat itu.
Tahun 1945 merupakan tahun yang paling dinanti-nantikan oleh seluruh Bangsa Indonesia. Pasalnya pada tahun itu Bangsa Indonesia telah merdeka dan terbebas dari belenggu penjajah yang kemudian membawa segala perubahan baru bagi Bangsa Indonesia. Perubahan itu sangat dirasakan oleh masyarakat Kepulauan Seribu.
Perubahan
sistem pemerintahan yang bukan lagi Hindia Belanda ataupun Jepang telah
berubah total menjadi Pemerintah Republik Indonesia. Perubahan
mekanisme kepemerintahan tersebut memberikan dampak kebijakan baru bagi
kepemimpinan di Kepulauan Seribu. Kemudian panggilan Bek-pun berubah
menjadi dengan sebutan Lurah. Perubahan kebijakan dari kepemimpinan
seorang bek tentunya lain pula dengan kebijakan kepemimpinan seorang
lurah. Akhirnya Bek Saenan telah digantikan dengan lurah pertama di
Pulau Untung Jawa – Kepulauan Seribu yang bernama Lurah Maesan.
Hari
berganti hari bulan pun demikian, tanpa disadari Pulau Ubi Besar tak
luput dari ancaman abrasi yang diciptakan gelombang pasang air laut.
Atas prakarsa Lurah Maesan dan dengan persetujuan pemerintah yang saat
itu sudah Pemerintah Indonesia mereka hijrah untuk yang kedua kalinya ke
Pulau Untung Jawa.
Tepat
tanggal 13 Pebruari 1954 Bapak Lurah bersama warganya berinisiatif
mendirikan sebuah tugu peringatan kepindahannya yang terletak persisi di
tengah-tengah pulau itu. Mulai saat itu semakin banyak
kemajuan-kemajuan yang dirasakan masyarakat Pulau Untung Jawa. Kemudian
Pemerintah DKI Jakarta pun tidak akan tinggal diam memperhatikan
kemajuannya hingga kini.
Lama
sudah kepemimpinan Lurah Maesan dan kemudian digantikan oleh
lurah-lurah lainnya. Nama-nama lurah yang memimpin setelah Lurah Maesan
hingga sekarang antara lain: Lurah Muran, Lurah Asmawi, Lurah Marzuki,
Lurah Syafi’i, Lurah Abdul Manaf, Lurah Machbub Sanadi, Lurah Haman
Sudjana, Lurah Ambas, Lurah Slamet Riyadi, S.Sos., Agus Irwanto, AP,
M.Si. dan sekarang Lurah Eko Suroyo, M,Si.
Keterangan:
* Terjadinya abrasi disebabkan oleh sifat alam dan ulah tangan manusia itu sendiri.
* Sumber sekelumit sejarah ini didapat
dari para pendahulu yang sekarang telah almarhu (orang-orang tua dulu
yang ada di Pulau Untung Jawa) dan kutipan dari buku-buku sejarah Pulau
Onroust – Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta tahun 1994.
* Naskah sekelumit sejarah ini mulai
dikumpulkan dari tahun 1989 dan disusun oleh Tim Pengelola Wisata Pulau
Untung Jawa dan bantuan instansi terkait.
|